Konsultan hukum litigasi non litigasi Jakarta membantu individu, UMKM, startup, dan perusahaan memilih serta menjalankan strategi penyelesaian masalah hukum. Jalurnya dapat berupa pendampingan di pengadilan, negosiasi, mediasi, arbitrase, penyusunan kontrak, legal opinion, atau penasihat hukum berkelanjutan. Pilihan terbaik bergantung pada tujuan, bukti, urgensi, nilai sengketa, dan hubungan yang ingin dipertahankan.
Di Jakarta, sengketa kontrak, wanprestasi, utang-piutang, ketenagakerjaan, properti, dan tata kelola perusahaan sering melibatkan dokumen serta tenggat yang kompleks. Karena itu, langkah pertama bukan langsung menggugat. Langkah yang lebih aman adalah melakukan pemetaan fakta, menjaga bukti, memeriksa kontrak, lalu membandingkan jalur litigasi dan non-litigasi secara proporsional.
Panduan ini membahas tujuh solusi praktis, dasar pertimbangan memilih jalur hukum, contoh alur kerja, kisaran biaya indikatif, serta checklist memilih kantor hukum. Informasi lokasi seperti Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Kuningan, Sudirman, SCBD, dan Jakarta Utara digunakan untuk membantu pencarian lokal, bukan untuk menjamin hasil perkara.
Apa Itu Jasa Hukum Litigasi dan Non-Litigasi?
Jasa hukum adalah layanan profesional yang dapat mencakup konsultasi, analisis dokumen, legal opinion, penyusunan perjanjian, negosiasi, pendampingan, dan penyelesaian sengketa. Litigasi berarti penyelesaian melalui lembaga peradilan, misalnya gugatan wanprestasi di Pengadilan Negeri. Non-litigasi berarti penyelesaian di luar persidangan, misalnya negosiasi, mediasi, atau arbitrase berdasarkan kesepakatan dan kerangka hukum yang berlaku.
Istilah “konsultan hukum” dan “advokat” dapat memiliki konteks pekerjaan yang berbeda. Advokat yang beracara harus memenuhi ketentuan profesi dan kewenangan yang berlaku, sedangkan konsultan dapat membantu aspek preventif, analisis, dan perancangan dokumen sesuai kualifikasi serta ruang lingkup penugasannya. Untuk perkara yang memerlukan kuasa beracara, calon klien sebaiknya memverifikasi identitas, kewenangan, dan pengalaman advokat secara langsung.
Perbedaan Litigasi dan Non-Litigasi
Tidak ada jalur yang selalu paling murah atau paling cepat. Perbandingan berikut adalah kerangka awal; durasi dan biaya aktual dipengaruhi jenis perkara, jumlah pihak, nilai sengketa, bukti, forum, dan respons lawan.
| Aspek | Litigasi | Non-litigasi |
|---|---|---|
| Forum | Pengadilan atau lembaga peradilan yang berwenang. | Negosiasi, mediasi, arbitrase, atau forum alternatif yang disepakati. |
| Kendali pihak | Prosedur dan putusan mengikuti hukum acara serta kewenangan hakim. | Pihak biasanya lebih leluasa menyusun agenda dan opsi penyelesaian. |
| Kerahasiaan | Persidangan tunduk pada aturan keterbukaan dan pengecualian yang berlaku. | Negosiasi dan mediasi umumnya lebih privat, tetapi detailnya perlu diatur. |
| Hasil | Putusan pengadilan, termasuk upaya hukum dan eksekusi sesuai aturan. | Kesepakatan damai atau putusan arbitrase, bergantung pada jalur yang dipilih. |
| Hubungan bisnis | Dapat lebih tegang karena posisi para pihak berhadapan secara formal. | Berpotensi mempertahankan hubungan jika para pihak masih mau berunding. |
| Cocok untuk | Perkara yang membutuhkan putusan, pemaksaan hak, atau proses formal. | Perkara yang membutuhkan solusi cepat, fleksibel, atau menjaga kerahasiaan. |
7 Solusi Ampuh Konsultan Hukum Litigasi Non Litigasi Jakarta
Ketujuh solusi di bawah ini tidak berdiri sendiri. Dalam praktik, konsultan hukum dapat memulai dengan legal audit dan negosiasi, kemudian beralih ke mediasi atau litigasi apabila penyelesaian awal tidak berhasil.
1. Konsultasi Awal dan Legal Opinion
Legal opinion adalah pendapat hukum tertulis yang menjelaskan isu, aturan yang relevan, risiko, pilihan tindakan, dan asumsi yang digunakan. Layanan ini berguna sebelum menandatangani kontrak, membeli aset, menerima investasi, melakukan PHK, atau merespons somasi.
Persiapan yang baik membuat konsultasi lebih efisien. Susun kronologi berdasarkan tanggal, kumpulkan kontrak dan addendum, simpan korespondensi, serta pisahkan fakta dari opini. Konsultan kemudian dapat memeriksa klausul wanprestasi, batas tanggung jawab, forum penyelesaian sengketa, jangka waktu, bukti pembayaran, dan kemungkinan konflik kepentingan.
Hasil konsultasi seharusnya bukan sekadar “bisa” atau “tidak bisa”. Dokumen yang baik menjelaskan beberapa skenario, konsekuensi biaya dan waktu, serta langkah paling aman berikutnya. Untuk keputusan besar, minta ruang lingkup pekerjaan, asumsi, dan batasan analisis secara tertulis.
2. Review Kontrak dan Legal Due Diligence
Review kontrak membantu menemukan ketentuan yang tidak seimbang sebelum dokumen mengikat. Pemeriksaan biasanya meliputi identitas para pihak, kewenangan penandatangan, objek, harga, jadwal, standar penerimaan, jaminan, kerahasiaan, data pribadi, kekayaan intelektual, keadaan kahar, pengakhiran, ganti rugi, dan mekanisme sengketa.
Legal due diligence adalah pemeriksaan hukum terhadap perusahaan, aset, atau transaksi. Startup dapat menggunakannya sebelum pendanaan. Perusahaan dapat menggunakannya sebelum akuisisi, pembukaan cabang, pengadaan besar, atau kerja sama dengan vendor strategis. Tujuannya bukan mencari dokumen sempurna, melainkan mengidentifikasi risiko yang dapat dinegosiasikan, diperbaiki, atau dihargai dalam transaksi.
Gunakan matriks risiko sederhana: isu, bukti, dampak, kemungkinan, pemilik tindakan, tenggat, dan status. Cara ini membantu direksi atau pemilik usaha melihat prioritas tanpa tenggelam dalam istilah hukum.
3. Negosiasi dan Mediasi Komersial
Negosiasi adalah pembicaraan langsung untuk mencapai kesepakatan. Mediasi melibatkan pihak ketiga netral yang membantu para pihak merumuskan pilihan, tetapi pada dasarnya tidak menggantikan kehendak para pihak. Keduanya dapat menjadi pilihan awal dalam sengketa kontrak, keterlambatan pembayaran, distribusi, konstruksi, dan hubungan bisnis jangka panjang.
Strategi yang kuat dimulai dengan target, batas minimum, kepentingan utama, dan alternatif jika kesepakatan gagal. Hindari mengirim ancaman yang tidak siap dijalankan. Dokumentasikan setiap perubahan dalam notulen, term sheet, addendum, atau perjanjian perdamaian yang jelas mengenai pembayaran, tenggat, wanprestasi lanjutan, dan pelepasan tuntutan.
Untuk mediasi di pengadilan, prosedur tunduk pada aturan Mahkamah Agung yang berlaku. Untuk mediasi privat, para pihak perlu menyepakati mediator, kerahasiaan, biaya, kewenangan penandatangan, dan cara mengeksekusi kesepakatan.

4. Arbitrase untuk Sengketa yang Membutuhkan Forum Khusus
Arbitrase merupakan penyelesaian sengketa di luar pengadilan berdasarkan perjanjian arbitrase. Jalur ini sering dipertimbangkan untuk kontrak komersial yang membutuhkan pemeriksa dengan keahlian tertentu, kerahasiaan relatif, atau prosedur yang disepakati. Namun, arbitrase bukan otomatis lebih murah dan tidak tepat jika klausul arbitrase tidak jelas atau kebutuhan utama pihak adalah akses ke mekanisme pengadilan tertentu.
Sebelum memilih arbitrase, periksa klausul, lembaga atau aturan yang ditunjuk, tempat dan bahasa proses, jumlah arbiter, hukum yang berlaku, pembagian biaya, serta mekanisme pelaksanaan putusan. Klaim bahwa putusan arbitrase “tidak bisa digugat sama sekali” terlalu sederhana; terdapat batasan dan upaya tertentu yang diatur hukum. Karena itu, jangan membuat keputusan hanya berdasarkan slogan pemasaran.
Rujukan awal mengenai arbitrase dan alternatif penyelesaian sengketa dapat dilihat pada Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 di basis data peraturan BPK.
5. Pendampingan Litigasi Perdata dan Komersial
Litigasi patut dipertimbangkan ketika negosiasi tidak menghasilkan solusi, hak perlu dipulihkan melalui putusan, terdapat kebutuhan sita atau eksekusi, atau tenggat prosedural menuntut respons formal. Contoh perkara meliputi wanprestasi, perbuatan melawan hukum, sengketa kontrak, utang-piutang, konstruksi, properti, dan perselisihan korporasi.
Secara umum, tim hukum akan memeriksa forum dan kewenangan, menilai bukti, menyusun posita serta petitum, mendaftarkan perkara, menyiapkan jawaban atau gugatan, menghadapi agenda persidangan, menyusun pembuktian, dan mengevaluasi putusan. Rincian prosedur dapat berubah sesuai jenis perkara dan aturan terbaru. Jangan menunda konsultasi jika sudah menerima somasi, relaas panggilan, atau dokumen pengadilan.
Untuk konteks perkara perdata di Jakarta, Anda dapat membaca artikel internal Jasa Pengacara Perdata Jakarta. Artikel tersebut bukan pengganti pemeriksaan fakta perkara, tetapi dapat membantu memahami ruang lingkup layanan.
6. Retainer Lawyer atau Penasihat Hukum Berkala
Retainer lawyer adalah pengaturan layanan hukum berulang berdasarkan ruang lingkup dan periode tertentu. Model ini dapat cocok bagi perusahaan yang rutin meninjau kontrak, mengelola vendor, menangani surat hukum, memperbarui kebijakan internal, atau membutuhkan akses konsultasi sebelum keputusan bisnis dibuat.
| Aspek | Retainer | Litigasi per perkara |
|---|---|---|
| Fokus | Preventif, rutin, dan proaktif. | Penanganan sengketa tertentu. |
| Pembayaran | Periode bulanan atau sesuai kesepakatan. | Per tahap atau paket perkara. |
| Cakupan | Harus ditentukan dalam scope of work. | Berpusat pada forum dan isu perkara. |
| Batasan | Tidak selalu mencakup biaya eksternal atau persidangan. | Tidak otomatis mencakup kebutuhan legal harian. |
Kontrak retainer sebaiknya menjelaskan jumlah jam atau permintaan, waktu respons, jenis dokumen, rapat, konflik kepentingan, biaya di luar paket, kerahasiaan, dan cara mengakhiri hubungan. Hindari membandingkan retainer dengan biaya divisi legal internal secara mutlak karena struktur dan kebutuhan tiap perusahaan berbeda.
7. Restrukturisasi, Perdamaian, dan Pemulihan Hubungan
Dalam sengketa utang, proyek, keluarga, atau kepemilikan, solusi terbaik kadang bukan kemenangan satu pihak. Restrukturisasi dapat mengubah jadwal pembayaran, jaminan, milestone, atau mekanisme pengawasan. Perjanjian perdamaian dapat mengakhiri sengketa jika para pihak memiliki kewenangan dan menyepakati isi secara jelas.
Untuk perkara pidana, istilah restorative justice memiliki syarat dan mekanisme yang bergantung pada jenis perkara serta kebijakan hukum yang berlaku. Istilah tersebut tidak boleh digunakan sebagai janji bahwa perkara pasti dihentikan. Konsultasikan kelayakan dan prosedurnya kepada advokat, penyidik, penuntut umum, atau lembaga yang berwenang.
Manfaat Menggunakan Jasa Hukum Profesional
Pendampingan profesional tidak menghapus risiko dan tidak menjamin kemenangan. Manfaat utamanya adalah membantu klien mengambil keputusan berdasarkan fakta, aturan, bukti, dan konsekuensi yang lebih terukur.
| Aspek | Dengan pendampingan | Tanpa review yang memadai |
|---|---|---|
| Kontrak | Klausul penting diidentifikasi dan dinegosiasikan. | Risiko kewajiban tersembunyi dapat terlambat diketahui. |
| Bukti | Dokumen, kronologi, dan komunikasi disusun lebih sistematis. | Bukti dapat tercecer atau tidak relevan dengan isu hukum. |
| Negosiasi | Target, batas, dan konsekuensi dirancang lebih terukur. | Kesepakatan dapat dibuat tanpa mekanisme pelaksanaan yang jelas. |
| Kepatuhan | Risiko regulasi dipetakan sesuai aktivitas bisnis. | Perubahan aturan dapat terlewat. |
| Fokus manajemen | Manajemen memperoleh analisis dan pilihan tindakan. | Waktu operasional dapat terserap oleh konflik hukum. |
Risiko Tanpa Pendampingan Hukum
Risiko terbesar bukan selalu kalah di pengadilan. Sering kali masalah bermula jauh sebelumnya, ketika kontrak, bukti, atau kewenangan penandatangan tidak diperiksa.
- Klausul kontrak tidak seimbang. Kewajiban, denda, hak pengakhiran, atau forum sengketa bisa lebih menguntungkan pihak lawan.
- Bukti tidak terjaga. Percakapan, invoice, berita acara, dan perubahan pekerjaan dapat hilang atau tidak tersusun berdasarkan kronologi.
- Respons terhadap somasi terlambat. Jawaban yang emosional atau tidak akurat dapat memperburuk posisi negosiasi.
- Risiko ketenagakerjaan. Keputusan hubungan kerja tanpa dokumentasi dan prosedur yang tepat dapat menimbulkan perselisihan.
- Masalah perizinan dan tata kelola. Struktur badan usaha, kewenangan, RUPS, perlindungan data, atau kontrak vendor dapat tidak selaras.
- Biaya membesar karena strategi terlambat. Ketika aset, hubungan, atau bukti sudah terlanjur rusak, pilihan penyelesaian menjadi lebih sempit.
Solusi praktisnya adalah membuat daftar risiko hukum triwulanan, memeriksa kontrak bernilai material sebelum ditandatangani, dan menetapkan jalur eskalasi ketika terjadi wanprestasi.
Kapan Perusahaan Membutuhkan Konsultan Hukum?
- Saat mendirikan atau mengubah perusahaan. Struktur PT, kewenangan, perizinan, hubungan pemegang saham, dan kontrak pendiri sebaiknya diselaraskan sejak awal.
- Sebelum kontrak besar ditandatangani. Nilai transaksi bukan satu-satunya ukuran. Durasi, eksklusivitas, data, HKI, dan dampak kegagalan juga penting.
- Sebelum fundraising, merger, atau akuisisi. Legal due diligence membantu mengungkap kewajiban, lisensi, sengketa, dan kepemilikan aset.
- Ketika menerima somasi atau panggilan. Segera amankan dokumen dan hindari pengakuan fakta sebelum strategi respons ditinjau.
- Saat ada perubahan regulasi. Penyesuaian kebijakan, kontrak, ketenagakerjaan, dan perlindungan data dapat memerlukan analisis khusus.
- Ketika hubungan bisnis mulai retak. Mediasi atau negosiasi terstruktur sering lebih efektif sebelum komunikasi berubah menjadi sengketa terbuka.
- Saat bisnis memasuki fase ekspansi. Cabang baru, vendor baru, investor, dan pasar baru biasanya menambah kebutuhan compliance.
Siapa yang Membutuhkan Layanan Ini?
Layanan konsultan hukum di Jakarta dapat relevan bagi lebih dari perusahaan besar. Ruang lingkupnya harus disesuaikan dengan kemampuan membayar, tingkat risiko, dan tujuan klien.
- Startup: struktur pendiri, vesting, investasi, HKI, kontrak pengembang, dan perlindungan data.
- UMKM: legalitas, merek, reseller, distribusi, pembayaran, dan kontrak pelanggan.
- Korporasi: tata kelola, pengadaan, kontrak komersial, audit hukum, dan sengketa bernilai material.
- PMA atau perusahaan asing: perizinan, ketenagakerjaan, kontrak bilingual, dan kepatuhan operasional.
- Individu: sengketa tanah, warisan, utang-piutang, kontrak, atau persoalan perdata lainnya.
Dasar Hukum yang Perlu Diperiksa
Dasar hukum bergantung pada fakta perkara. Beberapa rujukan yang sering relevan antara lain:
- Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat.
- Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.
- Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa.
- PERMA Nomor 1 Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan, apabila relevan dengan forum perkara.
- Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi, untuk pemrosesan data pribadi.
Daftar tersebut bukan daftar lengkap dan nomor atau status peraturan perlu diverifikasi ketika artikel dipublikasikan. Untuk isu perusahaan, ketenagakerjaan, pajak, properti, dan pidana, aturan sektoral dapat mengubah analisis.
Berapa Biaya Konsultan Hukum di Jakarta?
Biaya tidak dapat ditentukan hanya dari kata “litigasi” atau “non-litigasi”. Faktor utamanya meliputi kompleksitas, nilai sengketa, jumlah pihak, jumlah dokumen, forum, urgensi, lokasi, jumlah sidang, strategi, dan apakah biaya eksternal termasuk dalam penawaran.
| Layanan | Cara penetapan | Hal yang perlu ditanyakan |
|---|---|---|
| Konsultasi awal | Per jam, per sesi, atau gratis sesuai kebijakan kantor. | Durasi, materi yang ditinjau, dan tindak lanjut. |
| Legal opinion | Paket atau berdasarkan jam kerja. | Jumlah isu, halaman, riset, dan revisi. |
| Drafting/review kontrak | Per dokumen atau tingkat kompleksitas. | Bahasa, negosiasi, revisi, dan lampiran. |
| Mediasi/negosiasi | Per sesi, tahap, atau paket. | Jumlah pertemuan, mediator, perjalanan, dan drafting perdamaian. |
| Litigasi | Per tahap atau paket perkara. | Jumlah tingkat pemeriksaan, biaya perkara, saksi, dan eksekusi. |
| Retainer | Bulanan berdasarkan scope of work. | Batas layanan, waktu respons, dan biaya di luar paket. |
Mintalah engagement letter atau perjanjian jasa yang mencantumkan ruang lingkup, honorarium, pajak, biaya administrasi, mekanisme pembayaran, konflik kepentingan, kerahasiaan, dan kondisi penghentian. Penawaran yang lebih murah belum tentu lebih efisien jika tidak mencakup kebutuhan utama.
Cara Memilih Konsultan Hukum Litigasi Non Litigasi Terbaik di Jakarta
- Sesuaikan spesialisasi. Cari pengalaman yang relevan dengan sengketa atau transaksi Anda, bukan hanya jumlah tahun berpraktik.
- Verifikasi identitas dan kewenangan. Minta nama, kualifikasi, kantor, dan pihak yang akan menangani pekerjaan.
- Minta strategi tertulis. Minimal berisi isu utama, pilihan jalur, asumsi, risiko, dan langkah 30 hari pertama.
- Periksa transparansi biaya. Pastikan biaya jasa dan biaya eksternal dipisahkan.
- Nilai komunikasi. Pilih tim yang dapat menjelaskan istilah hukum dalam bahasa yang mudah dipahami.
- Periksa konflik kepentingan. Kantor hukum perlu memastikan tidak mewakili pihak yang berlawanan dalam isu yang sama.
- Pertimbangkan akses lokasi. Pertemuan dapat dilakukan di area Jakarta Utara, Jakarta Pusat, Kuningan, Sudirman, SCBD, atau secara daring sesuai kebutuhan.
Jhon Siregar & Associates menyatakan menyediakan layanan litigasi dan non-litigasi bagi individu maupun perusahaan. Lihat halaman layanan hukum, tentang kantor, dan kontak resmi untuk memverifikasi ruang lingkup serta kanal komunikasi.
FAQ Konsultan Hukum Litigasi Non Litigasi Jakarta
1. Apa perbedaan konsultan hukum dan pengacara?
Konsultan hukum biasanya membantu analisis, pencegahan risiko, penyusunan dokumen, dan strategi hukum. Pengacara atau advokat dapat menjalankan fungsi tersebut sesuai kualifikasi serta dapat mewakili klien dalam proses beracara apabila memenuhi ketentuan yang berlaku. Istilah dan ruang lingkup pekerjaan perlu dikonfirmasi dalam perjanjian jasa. Untuk perkara pengadilan, tanyakan secara khusus siapa yang akan menjadi kuasa dan siapa yang bertanggung jawab atas strategi perkara.
2. Berapa biaya konsultan hukum litigasi di Jakarta?
Biaya bergantung pada jenis perkara, nilai sengketa, jumlah dokumen, forum, jumlah persidangan, urgensi, dan scope of work. Konsultasi dapat dihitung per sesi, sedangkan litigasi dapat ditetapkan per tahap atau paket. Mintalah penawaran tertulis yang memisahkan honorarium dari biaya perkara, transportasi, ahli, penerjemah, dan pengeluaran lain. Jangan menggunakan kisaran internet sebagai janji harga untuk perkara tertentu.
3. Berapa lama proses mediasi non-litigasi?
Mediasi dapat berlangsung satu atau beberapa sesi, tetapi tidak ada durasi universal. Waktu dipengaruhi kesiapan dokumen, jumlah pihak, kewenangan pengambil keputusan, kompleksitas isu, dan kemauan berkompromi. Mediasi di pengadilan mengikuti prosedur yang berlaku, sedangkan mediasi privat bergantung pada kesepakatan para pihak. Konsultan dapat membantu menetapkan agenda, pertukaran dokumen, otoritas penandatangan, dan tenggat pelaksanaan.
4. Apakah putusan arbitrase bisa digugat?
Arbitrase memiliki sifat final dan mengikat dalam kerangka hukum yang berlaku, tetapi pernyataan bahwa putusan sama sekali tidak dapat dipersoalkan perlu dibaca hati-hati. Undang-Undang Arbitrase mengatur kondisi terbatas terkait pembatalan dan pelaksanaan. Jawabannya juga bergantung pada klausul, lembaga arbitrase, tempat arbitrase, dan hukum yang dipilih. Mintalah analisis khusus sebelum memasukkan atau mengaktifkan klausul arbitrase.
5. Kapan harus memilih litigasi daripada non-litigasi?
Litigasi dapat dipertimbangkan ketika negosiasi atau mediasi gagal, diperlukan putusan formal, terdapat kebutuhan pemulihan melalui mekanisme pengadilan, atau tenggat hak menuntut harus dijaga. Non-litigasi lebih menarik ketika para pihak masih dapat berkomunikasi dan menginginkan solusi fleksibel. Keputusan sebaiknya dibuat setelah menilai bukti, aset lawan, biaya, waktu, kerahasiaan, serta dampak terhadap hubungan bisnis.
6. Apakah konsultasi hukum pertama selalu gratis?
Tidak selalu. Sebagian kantor menyediakan sesi pengenalan gratis dengan waktu dan ruang lingkup terbatas, sementara sebagian lain mengenakan honorarium sejak konsultasi pertama. Tanyakan terlebih dahulu durasi, dokumen yang dapat ditinjau, apakah analisis tertulis termasuk, dan apakah konsultasi menciptakan hubungan jasa. Jangan mengirim data sensitif sebelum memahami kanal, kebijakan kerahasiaan, dan pihak yang menerima informasi.
7. Bagaimana cara memilih konsultan hukum terpercaya di Jakarta?
Mulailah dari kecocokan spesialisasi, identitas profesional, pengalaman perkara serupa, transparansi honorarium, konflik kepentingan, dan kemampuan menjelaskan strategi. Periksa kanal resmi kantor dan jadwalkan konsultasi untuk menguji kualitas komunikasi. Testimoni dapat menjadi sinyal, tetapi bukan bukti hasil yang akan sama pada perkara Anda. Minta ringkasan ruang lingkup, asumsi, risiko, dan langkah berikutnya secara tertulis.
Kesimpulan
Konsultan hukum litigasi non litigasi Jakarta dapat membantu menyelesaikan masalah melalui pendekatan preventif, negosiasi, mediasi, arbitrase, retainer, atau litigasi. Strategi yang bertanggung jawab tidak menjanjikan kemenangan atau angka penghematan tertentu. Strategi tersebut menjelaskan pilihan, bukti yang diperlukan, biaya, tenggat, risiko, dan konsekuensi setiap jalur.
Jika Anda menghadapi kontrak bermasalah, somasi, sengketa bisnis, kebutuhan due diligence, atau rencana ekspansi, siapkan kronologi dan dokumen inti sebelum konsultasi. Anda dapat menghubungi Jhon Siregar & Associates melalui halaman kontak resmi untuk menanyakan ketersediaan konsultasi. Jangan mengirim data pribadi atau rahasia perusahaan melalui kanal yang belum diverifikasi.
Referensi dan Pedoman
- Database Peraturan BPK, UU Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat.
- Database Peraturan BPK, UU Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa.
- JDIH Mahkamah Agung, PERMA Nomor 1 Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan.
- Database Peraturan BPK, UU Nomor 27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi.
